Kalau cinta bukan untuknya mengapa menikahinya ?

Ada ujian Tak habis – habis, peristiwa mendera  pada rumah tangga…ada juga bahagia tak henti henti memayungi  rumah tangga………Lalu kalau kita tanyakan bahagia….dimana  ia hendak singgah apakah ia bergerak berubah atau hancur mati atau bisa kita tumbuhkan dan ciptakan sendiri.

Zaman memang sudah jauh sekali berubah……….kebebasan katanya sudah menjadi hak kedua belah pihak …..lalu mengapa masih  teruji juga pada perpisahan. Gagalkah kebebasan itu atau karena salah kaprah memahaminya..karena tetap saja manusia memerlukan aturan dan akidah  yang jelas dalam hidupnya yang mengikatnya untuk kebahagiaan dirinya dan masyarakat sekitarnya.

Setelah menikah sehari berpisah

Setelah menikah beberapa bulan berpisah setelah  menikah bertahun-tahun berpisah ?

Salahkah kebebasan itu? ……….

Atau salahkah memutuskan menikah ?

Dan bagaimana perasaan perempuan …….yang tentunya kalau tahu akan dikhianati lebih baik mereka tak usah menikah saja ..dari pada sehari bercerai …beberapa bulan bercerai …..

Lalu apa yang sebenarnya menjadi dasar pernikahan itu …………dan apa pula yang menjadi alas an perceraian itu.

Rumit memang ……..kalaulah urusan rumah menjadi boomerang tenaga   dan enegi menjadi tersita untuk urusan ini ………lalu bagaimana bisa ini terjadi .

Kau telah menyakitinya jika kau menghianatinya.

sedih sekali rasanya mendengar kan ceritanya saat janji-janji di lupakan begitu saja dan pernikahan itu akhirnya di nodai dengan adanya orang ke tiga….

Aku kaget dalam pejaman mataku, saat aku merebahkan tubuhku di kursi  lelah demikian menyerangku saat waktu sempit datang menyergap,tetapi mataku tetap berat untuk terbuka  …dan sebenarnya aku juga sedih mendengar dialog itu .

Tetapi akhirnya dalam perjalanan pulang kepalaku di penuhi berbagai  pertanyaan dan pernyataan….

Begitukah akhir cinta …begitu  mudahkah sang suami menghianati istrinya …..begitu ……….murahnya arti sebuah cinta……..khianati  cinta…aku tak senang mendengarnya …dua hari ini aku mendengar tentang cerita seperti ini …semua yang berawal dari ketidak harmonisan komunikasi …tempat yang berjauhan Sampai kefikiran dan membuatku  termimpi-mimpi cerita temanku ini.

Dulu saat aku belum menikah sahabatku berkata…

Bu tak usah buru-buru menikah sahabat saya cepat menikah eh sekarang sudah bercerai lagi….

( Tentu maksudnya agar tidak terburu – buru , sangat di sesali jika karena terburu-burunya itu mengakibatkan perceraian).

Aku termenung  saat mendengar pernyataan itu…nasehat yang sangat menenangkan aku …sangat jarang kudengar…saat lingkungan bagai mendesakku agar cepat- menikah melihat umurku yang semakin menjulang dan tak peduli peristiwa sedih atau gembira yang tengah menimpaku saat itu…karena kata waakku ,,,wajahku selalu  tenang …..tetapi mereka selalu tak mampu menebak jika aku sedang resah…jadi merek a berfikir tak ada apanya mengatakan tuntutan mereka tersebut..

Bahkan ada usia perkawinan yang hanya satu hari saja.

Yah dan sekarang  aku mengingat cerita sahabatku itu….tentang temannya yang di khianati suaminya…itu…

Mengapa menikah ya ?

Mengapa bohong ya ?

Mengapa tega ?

Tak kah ia merasa sakit hatinya dikhianati ?

Tak tahuka  ia cinta itu agung……..apa dasar pernikahannya dengan mas kawin  seperangkat alat sholat dan cincin kawin itu ?

Apa yang ia fikir tentang hati perempuan…?

Tak tahukah ia perjanjian  akad nikah itu adalah perjanjian yang begitu kuatnya …….?

Lagi-lagi cinta…itu apa…mengapa begitu murahnya…dianggap barang  saja …tak suka dibuang saja…habis manis sepah di buang …begitukah…?

Dan tentang kisah temanku itu aku merasa mungkin cinta telah jatuh derajatnya jadi senda gurau dan barang dagangan saja……dan benar kalau cinta telah jatuh derajatnya kan malanglah nasib  anak – anak manusia ini.

Hati manusia telah di obral…….tetapi akhirnya adalah menuai  kerugian dari banyak hal waktu , fikiran , mau pun tenaga. Berat keluar dari permasalahan diri sendiri, menyembuhkan luka pun butuh waktu.

Cukuplah kau tahu kau menyakitinya karena menghianatinya.

Janganlah sesalan mengakhiri pernikahan yang berawal bahagia tersebut

Jagalah hati istrimu / suamimu……di dunia kita hanya sebentar tujuan terakhir kita adalah syurga …….kebahagiaan tertinggi adalah syurga……pertemuan di dunia tak ada arti apa apanya jika kau ingat bahwa sebenarnya pertemuan itu pun hanya sementara …sebentar ….lalu haruskah pertemuan yang singkat dan sebentar ini kita hiasi dengan hianat dengan pertengkaran- pertengkaran demi pertengkaran. Menyakiti hati yang murni mencintai  dan menyakiti keluarga  besar  yang  mengasihi. Ingat harapan pada wajah mereka saat  akad pernikahan itu.

Janganlah pernikahan menjadi  sesalan nanti kekurangan sama-sama di perbaiki …bahkan perlu perjuangan untuk memperbaikinya.

Atau perasaanmu sudah kau kaburkan melupakan janji-janjimu ingatlah setiap perbuatan kita ada pengawasnya ada balasannya.

Rumah bukan kantor  yang kita bisa pindah jika tak senang  pasangan kita bukan karyawan yang bisa kita pecat seenaknya lalu ganti dengan yang baru,( sebenarnya pemecatan pun perlu menggunakan hati nurani juga )

Dan kemuliaan kita sebagai manusia  adalah mengerti cinta…dan memilikinya …walaupun kadang tak selalu dalam kesenangan saat kita menjalaninya ….karena jalan cinta meminta juga pengorbanan untuk di rasakan kemanisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s