Pemilik air mata

Kehidupan memang adakalanya,

bergejolak, bersorak ,

terlempar, terdampar, ternanar,

Membisu membisu ,

serasa memaku-maku ….

karena dunia adalah permainan …seperti panggung sandiwara .

Ada sedihnya ada rianya ada segala rasa .

Lalu siapakah pemilik air mata sejati ?

Lalu siapakah pemilik bahagia terabadi ?

Menangislah …

Jika ingin menangis ketika kesedihan itu meraja

Bergembiralah ketika kesabaran itu menguasa jiwa.

Karena itulah kemenangan terjaya

Menundukkan hawa nafsu

Jangan gundah kalau mengalir  air mata

Jangan goyah kalau kau merasa derita.

Karena biarlah air mata tanda hati yang masih hidup

Biarlah air mata tanda tanda kebesarannya juga

Karena tanpa air mata maka kaulah patung

Tak bernurani…

Tetapi air mata sebenarnya tak berguna

Jika sekedar air mata

Tetapi biarlah ia mengalir alami

Membasahi jiwa yang gersang ,

Menanti kesucian kasih

Dan semestinya kasih adalah Dia

Karena Dialah Pemilik air mata terabadi.

Mampu menyeka Nya

Dan janji Nya adalah benar

Untuk dihitungNya …air mata duka

Air mata dusta…

Atau air mata yang membawa ke syurga.

( awal syawal  )

Belajarlah dari matahari

Menemukan puisi ini beberapa hari lalu  di tulis oleh Dr Amir Faishol Fath

dakwatuna.com

Ilustrasi (forcedgreen.com)

Anakku, lihatlah matahari itu
Ia tidak pernah berhenti memberikan cahaya
Sekalipun orang-orang tidak mau memujinya
Tidak pernah memberikan penghargaan kepadanya
Ia tetap memberikan pencahayaan
Bayangkan, apa yang akan dialami bumi
Bila matahari tidak mau bercahaya

Anakku, janganlah kau putus asa
Karena besok pagi matahari itu akan terbit kembali
Songsonglah masa depan dengan semangat membara
Tanpa kenal lelah dan pudar
Karena dengannya kau akan menjadi mulia

Anakku, kau lihat matahari itu sangat tinggi
Tetapi ia masih mau membantu bumi
Karenanya, bila engkau kelak sedang di atas
Janganlah lupa kepada yang di bawah
Sebab kau akan semakin tinggi ketika kau selalu merendah

Anakku, matahari itu tidak lupa diri
Sekalipun ia sibuk memberikan cahaya kepada semesta
Ia juga memberikan cahaya pada dirinya
Karenanya janganlah kau menjadi seperti lilin
Yang rela membakar dirinya untuk pencahayaan
Tetapi jadilah seperti matahari
Yang memberikan cahaya bagi orang lain
Juga memberikan cahaya bagi dirinya sendiri.

Washington DC, 2010

By lia Posted in puisi

Berbagai pikiran memenuhi kepalaku
Kala aku membaca
Kala aku melangkah
Kala aku menatap

Sulit menghentikannya sejenak
Hanya hati yang meringankan
Menerima segala yang
di rasa
Di ingat
Di lihat
Dan teringat

Karena percuma ku hilangkan segala
Kalaulah hati tidak ridha…

Biar yang hitam diterangi
Biar yang kelam di terangi

Biar yang khilaf di ingatkan
Biar yang zalim di ingatkan

@ 23042010

By lia Posted in puisi

Untuk rindu sore ini

Aku ingin bersamamu

dalam jingga kilauan sore

menemani matahari yang tertusuk ilalang

Tak mengeluh karena tusukannya

melalui hari dengan perlahan – lahan

menemani malam

menaikkan do’a menuju angkasa

aku ingin ikut berlarian

kita berkejaran dipadang ilalang

menikmati senyum yang paling luka

melantunkan bait demi bait tentang syurga

menghujamkannya dalam jiwa

hingga takkan ada lagi luka

sebab ia telah menemui cahayanya

(dia gubah matahari tertusuk ilalang ,,,,jadi seperti di atas…

kalau ingin lihat puisi titin  lainnya di  titintitan.wordpress.com)

*kita pernah berjanji untuk bertetangga di surga bukan? ^^

**takenfromaulia dg beberapa gubahan

By lia Posted in puisi

Cukuplah Allah saja

hidup hanya sementara

kata-kata kita

kadang jadi berharga atau hampa saja

jangan sampai membuat celaka

Kalau kau tahu

sebenarnya ingin ku lukis setiap panorama indah

yang ku dapat atau kau tangkap lewat kameramu

Kalau kau tahu

sebenarnya ingin kutatap selalu

bulan dan bintang-bintangya

Ingin ku tuliskan itulah  Kuasa-Nya….

saat Ia mengisyaratkan

malam dan siang

serta bayang-bayang

Kalau kau tahu…….kalau kau rasa

Secepatnya kau ingin

menghamba

meminta

bercerita

Dan jelas

tak bisa  sembunyikan asamu

tak bisa sembunyikan dustamu

tak bisa  sembunyikan sedihmu

tak bisa  sembunyikan cintamu

Hingga ………kasih-Nya memeluk jiwamu

hingga kau ingin Ia- Nya saja

menginginkan syurga yang tinggi

dimana penghuninya saling mengucapkan salam

Hingga tak ingin kau ganti lagi

hari ini atau nanti kecuali  bagi syurga

tak meniti jalan lain lagi

Walau dusta menghadang……

maksiat memamerkan keangkuhannya

di mana-mana

karena cukuplah Allah  saja.

By lia Posted in puisi

Waktu

berlalulah…….

aku sudah menduga sembilumu

atau ceriamu

berlalulah ………

karena tak ada yang sia-sia

Waktu

jangan ragu

berlalulah

Aku sudah tahu

ada dua malaikat penyerta

yang setia menuliskan baikmu

dan dustamu

Waktu

jangan mengeluh

jangan ragu

berlalulah

Tak berguna

Hari ini puisi jadi tidak berguna

karena selalu membuatmu salah membaca

Hari ini puisiku jadi tidak berguna

Kata-katanya mengambang

menyebar menghilang…..

Hari ini puisiku tak berguna…..

karena kau campakkan

di belakang cita-cita dan Cintaku

Air matamu yang mengkristal

Tadi kilatan air matamu telah jernih
Tidak seperti hari lalu saat kau kemas semua buku
Lalu tertawa tipis dari candaku yang berlapis tangis melihat perjalanan kita
Terus menapak ketidak pastian membawa beban beratus harapan
Dan merasa menjadi sangat tak berdaya ,,merasa sangat dimiskinkan
merasa teraniaya, padahal segala hanya ujian kecil

Tadi kilatan air matamu telah mengkristal
Berkilau di mataku ,,,,melihat tawa asli dari seratus jiwa
Yang telah pasti menjejakkan kaki kemana harus pergi belajar
Dan merangkai kembali cita-cita yang barusan terterpa badai

@ september 2009

bukan karena aku

Pernahkan kau merasa
berduka tetapi harus tetap tertawa karena
berpasang mata menantimu di depan kelas
seperti pemain sandiwara

Pernahkah kau ukur berapa sedih perpisahan
dalam sebuah puisi perpisahan
dari pada perpisahan yang sebenarnya
tak kau perhatikan karang-karangnya di dalam laut itu
tak pula kau dengar kicau burung-burung yang
terbang bersamaan itu
tak pula kau dengarkan pembicaraan
dua angsa putih itu
kau hanya mendengar alunan musiknya saja

Kalau kau sedih dengan puisiku
Jangan katakan karena ku

Aku pernah mencegah agar bait bait kesedihan tak kutuliskan
dengan fotoku yang ku pajang dalam wajah riang
tapi katamu yang kau tulis dengan huruf besar – besar aku ingin terkenal

By lia Posted in puisi

benci mencela

seorang penyair berkata

Aku mencintai kemuliaan akhlak dengan segenap upaya
Aku benci mencela
dan mencela
Aku menghindar tak sudi mencela
itulah sejahat-jahat manusia
Barang siapa menghormati orang lain maka
mereka akanmenghormatinya.
Barang siapa menghina orang lain
ia tak akan mendapat hormat