Endapan emosi anak

29 08 2009

Jangan biarkan endapan emosi pada anak, karena emosi yang mengendap akan menjadi berbahaya, menurut  psikologi sebaiknya kita mendengarkan isi hati anak yang sedang kesal , marah, sedih atau lainnya. Karena jika emosi itu mengendap suatu saat dapat meledak, menjadi hal-hal yang konstruktif.

Endapan Emosi ibarat kue lapis, satu kue lapis perlu 150 derajat memanaskannya jika ada 10 kekesalan sehari yang di temui oleh anak suhunya 10 x 150 derajat ,, setahun jadi ……. bertahun-tahun jadi berapa.  Anak -anak yang memiliki endapan emosi  harus kita syukuri mereka bisa survive ,masih untung mereka tidak bunuh diri.

Biasakanlah membaca bahasa tubuh anak, misalnya saat ia melakukan hal yang kelihatannya mengganggu mungkin ada endapan emosi yang ia bawa ,jangan langsung dimarahi tetapi ajaklah bicara agar emosi itu keluar.

Kemudian untuk para orang tua dan guru didiklah anak-anak kita tidak hanya pintar akademiknya saja tetapi pertama kali didiklah menjadi anak yang saleh dan saleha, kemudian didiklah mereka untuk menjadi istri atau suami ketig didiklah mereka untuk menjadi ayah atau ibu.

Sepuluh tahun terakhir ini perceraian  dari keluarga muda yang memiliki satu atau dua anak meningkat sekitar 110 % , 2  alasantertinggi disebabkan oleh poligami dan perselingkuhan, maka yang jadi korbannya adalah anak-anak dari perceraian tersebut.Merekalah yang rentan dalam mendapatkan masalah , asuhan yang terbagi , asuhan dan kasih sayang yang tak lengkap, bahkan orang yang pernah berceai pun mengingatkan agar janganlah emosi sesaat membuat kita mudah mengambil keputusan bercerai,masa depan anak masih lebih panjang mungkin masa sekarang pengorbanan para orang tua adalah bagaimana mempertahankan rumah tangga agar tetap utuh.

Bahkan masalah yang sering dijumpai di sekolah adalah masalah  dari anak-anak broken home biasanya mendapatkan perhatian yang ekstra, hasilnya macam-macam ada yang bisa sewlesai ada yang tetap menbawa masalahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Marilah kita para orang tuadan guru menjadi pembaca yang baik bagi bahasa tubuh anak dan mendengar  emosi anak , agar tak ada endapan emosi anak, yang suatu waktu akan meledak tak terbendung.

Disarikan dari acara untukmu Ibu Indonesia (TVRI )





Jawaban ibu

20 07 2009

seorang ibu yang berpesan pada anaknya
jangan bermain di dekat kali nanti bajumu basah
jangan bermain di dekat jalan nanti engkau tertabrak
jangan juga menyebrang tanpa melihat kanan kiri
jangan pergi jauh – jauh dari rumah nanti ibu susah mencarimu ,
tak bisa lagi berkata apa-apa

Karena ibu dan anak yang terpisah sekian tahun hilang tak tahu gembira atau pun duka masing – masing , ingin saling melupakan tapi tak bisa, hingga bertemu lagi dari perpisahan yang menyakitkan menusuk hari-hari ibu

Pengalaman ibu
cuma bisa ibu ceritakan pada bulan sabit atau purnama
hanya bisa ibu gantungkan pada semak belukar saja
bukan pada bintang
yang tak bisa ibu ingat-ingat lagi
ketika rumah itu harus ibu tinggalkan

Hingga sang anak bertanya mengapa ibu jauh – jauh pergi
Hingga ibu yang tak punya jawaban ,terdiam menanti agar purnama saja yang bercerita betapa sakitnya ,,, karena saat itu ibu harus pergi.

,





Jangan menangis ibu

11 07 2009

Aku ingin mengatakan ini saat seorang ibu menangis
mengantarkan anaknya mendaftarkan diri ke sekolah ,,, tapi aku tak bisa berkata apa pun

jangan menangis ibu
walaupun ini tengah perjalanan yang sangat terik
Mengantarkanmu pada kehausan hampir setiap hari
Jangan menangis ibu
Biarlah yang pergi tak kembali
Anakmu mudah-mudahan menjadi pelipur lara yang abadi nanti
Jangan menangis ibu
Basahilah jiwa anakmu dengan kalam Sang Pengasih
Lukislah masa depan anakmu dengan kasihmu
walaupun sepenggalnya telah di bawa pergi ayahnya entah kemana
Jangan menangis ibu





Aku rindu ibu 4

17 05 2009

Rindu yang bagaimana ibu….. yang mungkin menghempas segala yang indah disini, menghempas segala duka disini…., karena  entah beribu hari tak kugapai tanganmu,  dan tak kau usap wajahku…. Ibu… membaca sajak cintamu aku selalu rindu, menulis segala cintamu aku kehabisan pena. Mengingat segala deritamu Aku beku, aku rindu ibu,

Tapi selalu katamu, itulah hidup, inilah hidup,   “Inginnya aku anakku pada semua dekapanku sejauh rengkuhan tanganku, sejauh mataku memandang saja, tetapi karena ku tahu sayap anakku ingin terbang sejauh yang dia bisa, setinggi yang ia mampu, melintasi gunung, samudra dan budaya…. Dan jika itu baginya cahaya yang ia cari. Maka restuku sejauh kepakan sayapnya, tapi jangan harapkan surat ibu, karena ibu tak mampu menuliskan air mata tentang kerinduan dan kehilangan ………”

Riung bandung 2005