Kala perpisahan

17 10 2009

Akhirnya sampailah kita pada waktu yang tak disangka sangka

Saat  takdir itu nyata-nyata telah menbentang di depan mata

Saat waktu tak dapat di tawar-tawar lagi

Saat doa, mata tangan dan mulut pun tak berhasil meminta-minta

Saat hati perih ketika  memiliki penjelasan mengapa telah bersama

tapi kehidupan harus di tempuh seperti yang telah Dia gariskan

Ketentuan harus di jalani

Hingga Aku terbata-bata ,,,melihat kenyataan

Adalah perpisahan yang membentang

Dan tak ada seorang pun yang dapat disalahkan

Takdir kita telah di tuliskan

Dan Ingin bertanya apa  maksudnya tuhan mempertemukan kita

Ingin menanyakan kepada tuhan mengapa kita dipertemukan dengan cara seperti itu

Dan mengapa kita dipisahkan dengan cara seperti ini

Hingga kebersamaan itu menjadi tak ada

hingga kita tahu kita terpisah

ketika  buku takdir-Nya telah dibukakan kemarin

Aku tersedu saat kubaca

Bahwa keiklhlasan  sama dengan keperihan

Bahwa Keikhlasan adalah keabadian sejati

Bahwa kecintaan adalah keabadian

Bahwa kehidupan nyata diujungnya perpisahan





Puisi perpisahan

24 06 2009

Aku tak mengerti saat ku panggil kau berlari
Aku kecewa saat ku panggil kau sembunyikan wajah
Aku tak percaya saat ku lambai tanganku kau katakan sebentar ibu

Lalu kuraih tanganmu  kutatap matamu
“Buku apa yang sedang nanda tulis sekarang”
“Ya.. ibu novel tentang
outbond kita di Cikole,
tentang ketinggian yang hampir membuat kita jatuh ibu

juga tentang sungai kecil yang membasahi kaki-kaki kita nanti”.

Read the rest of this entry »